Berita terkini Indonesia dan internasional seputar Politik, ekonomi, entertainmen, sepak bola, dan berita sekitar anda.

Cara Pintar Mengelola Keuangan Bagi yang Baru Menikah

Terkadang masalah keuangan bisa menjadi pemicu pertengkaran pasangan suami istri yang baru menikah. Menurut Roslina Verauli, M.Psi, psikolog sebagai pasangan yang baru menikah hal utama yang menjadi pondasi dasar untuk membangun sebuah rumah tangga adalah komunikasi yang terbina di dalamnya, keterbukaan dan saling menghormati satu sama lain.

Masalah keterbukaan di antara pasangan suami istri merupakan nilai yang sangat penting termasuk masalah pendapatan dan pengeluaran masing-masing. Stiap pasangan baru harus sama-sama membuat kesepakatan mengenai siapa penafkah utamanya. Apakah pencari nafkah hanya salah satu ataupun kedua-duanya secara seimbang. Setelah kesepakatan, tujuan atau visi misi harus dimiliki untuk keuangan bersama.

Selain itu, gaya hidup spending (membelanjakan) dan saving (menabung) menjadi perhatian utama. Terkadang kebiasaan mengelola masing-masing dari pasangan tidaklah sama satu sama lain. Terakhir, diperlukan komitmen dan konsistensi penuh untuk menjalani semua tujuan atau target yang telah disepakati bersama.

Ditambahkan Felicia Imansyah, financial planner alumnus Universitas Indonesia memiliki rencana keuangan keluarga dan menjalankan rencana keuangan tersebut secara rutin adalah pondasi kuat agar keluarga terhindar dari apa yang disebut krisis ekonomi. Krisis ekonomi sendiri biasanya terjadi saat pengeluaran melebihi dari pendapatan yang diterima. Dalam hal ini yang perlu dilakukan adalah belajar untuk konsisten terhadap anggaran yang telah disepakati.

Untuk itu perlu dibuat daftar pengeluaran seperti pengeluaran rutin keluarga. Pengeluaran bulanan keluarga pada dasarnya terbagi atas beberapa pos pengeluaran yaitu pengeluaran operasional rutin bulanan, pengeluaran lain-lain, tabungan dan cicilan. Pembagian proporsi masing-masing pos ini bervariasi pada masing-masing keluarga.

Ada beberapa hal yang perlu dijadikan patokan yaitu minimal 10 perlu dana perlu dialokasi untuk keperluan tabungan dan investasi. Hal kedua yang perlu dijaga adalah proporsi cicilan hutang. Keuangan yang sehat memiliki proporsi hutang maksimal 30 persen dari pendapatan.

Kebencian Itu Seperti Membawa Bau Busuk

INI KISAH TENTANG sekolah TK. Pada suatu hari guru TK mengadakan “permainan” menyuruh setiap anak muridnya membawa kantong plastik transparan 1 lembar dan kentang.

Masing-masing kentang tersebut di beri nama berdasarkan nama orang yang dibenci, sehingga jumlah kentangnya tidak di tentukan berapa, tergantung jumlah orang-orang yang dibenci.

Pada hari yang disepakati masing2 murid membawa kentang dalam kantong plastik. Ada yang berjumlah 2, ada yang 3 bahkan ada yang 5. Seperti perintah guru mereka, tiap2 kentang di beri nama sesuai nama orang yang dibenci.

Murid2 harus membawa kantong plastik berisi kentang tersebut kemana saja mereka pergi selama 1 minggu.

Hari berganti hari, kentang2 pun mulai membusuk dan berbau tidak sedap.

Setelah 1 minggu murid2 TK tersebut merasa lega karena penderitaan mereka akan segera berakhir.

Guru:”Bagaimana rasanya membawa kentang selama 1 minggu?”

Keluarlah keluhan dari murid2 TK tersebut, pada umumnya mereka tidak merasa nyaman harus membawa kentang2 busuk tersebut kemanapun mereka pergi.

Guru pun menjelaskan apa arti dari “permainan” yang mereka lakukan.

Guru: “Seperti itulah KEBENCIAN yang selalu kita bawa apabila kita tidak bisa MEMAAFKAN orang lain.”

Sungguh sangat tidak menyenangkan membawa kentang busuk kemanapun kita pergi. Itu hanya 1 minggu. Bagaimana jika kita membawa kebencian itu seumur hidup?

Sebaliknya, enak dan nyaman sekali hidup di mana pun dan pergi ke mana pun tanpa membawa rasa kebencian hingga pikiran kita bisa jernih dan terbuka lebar hanya untuk memikirkan hal-hal yang positif saja…